main character syndrome
psikologi di balik fenomena merasa menjadi pusat semesta di media sosial
Pernahkah kita duduk di dalam kereta atau mobil yang sedang melaju, menatap ke luar jendela saat hujan turun rintik-rintik, sambil mendengarkan lagu indie yang syahdu? Di momen itu, tiba-tiba kita merasa seperti sedang berada di dalam sebuah film. Kita merasa bahwa kitalah tokoh utama dari alam semesta ini, dan orang-orang di sekitar kita hanyalah figuran yang sekadar lewat. Perasaan ini sangat normal. Bahkan, akhir-akhir ini internet punya istilah khusus untuk itu: main character energy.
Rasanya menyenangkan, bukan? Mengubah momen sepele menjadi sesuatu yang sinematik memberi kita semacam kendali atas hidup yang kadang membosankan. Namun, mari kita pikirkan sesuatu yang lebih jauh. Apa yang terjadi ketika khayalan di balik jendela kaca itu pindah ke layar ponsel kita? Tiba-tiba, kita tidak lagi sekadar berkhayal. Kita mulai menyusun naskah, mengatur pencahayaan, merekam aktivitas kita meminum kopi, dan menyiarkannya ke seluruh dunia. Kita menuntut agar dunia mengakui bahwa kitalah sang bintang utama. Di titik inilah, khayalan manis itu berevolusi menjadi fenomena yang sering kita sebut sebagai main character syndrome.
Untuk memahami mengapa kita begitu terobsesi menjadi pusat semesta, kita harus mundur sejenak dan melihat ke dalam tengkorak kepala kita sendiri. Secara historis dan evolusioner, otak manusia memang dirancang untuk memandang dunia dari kacamata orang pertama. Dalam psikologi, ada konsep yang dinamakan egocentric bias atau bias egosentris. Ini adalah kecenderungan alami kita untuk bersandar terlalu banyak pada perspektif kita sendiri dalam menilai suatu peristiwa.
Pada zaman purba, bias ini adalah mekanisme bertahan hidup yang brilian. Nenek moyang kita harus memprioritaskan rasa lapar mereka, ketakutan mereka, dan kebutuhan mereka agar tidak mati dimakan predator. Otak kita secara harfiah tidak memiliki kapasitas untuk terus-menerus memproses pikiran dan perasaan setiap anggota suku secara setara. Jadi, otak mengambil jalan pintas: "Dunia ini berputar di sekitarku, karena hanya sudut pandangku yang bisa aku rasakan secara langsung." Sampai di sini, merasa menjadi tokoh utama adalah kebutuhan dasar manusia untuk memahami realitas. Masalahnya mulai muncul ketika otak purba yang sangat egosentris ini diberikan sebuah panggung digital bernama media sosial, sebuah panggung yang tidak pernah tidur dan selalu menuntut pertunjukan.
Bayangkan panggung digital ini. Kita mengunggah sebuah video estetik tentang "keseharian kita". Setelah tombol unggah ditekan, ada jeda yang hening. Di momen jeda inilah, sebuah siklus neurokimia yang luar biasa sedang bekerja di dalam sistem saraf kita. Otak kita sedang menunggu reaksi. Kita sedang menunggu tepuk tangan dari penonton tak kasat mata.
Tapi, mari kita berhenti dan bertanya pada diri sendiri. Jika semua orang di media sosial berlomba-lomba memproduksi konten agar diakui sebagai main character, lalu siapa yang bersedia menjadi penontonnya? Siapa yang mau menjadi karakter pendukung? Ini adalah sebuah paradoks yang aneh. Kita semua berteriak di ruangan yang sama, memakai kostum paling gemerlap, berharap lampu sorot mengarah pada kita, tanpa sadar bahwa orang di sebelah kita juga sedang melakukan hal yang sama persis. Ketika ekspektasi otak kita akan tepuk tangan ini berbenturan dengan realitas algoritma yang dingin, sesuatu yang fundamental di dalam mental kita mulai tergeser. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya dilakukan oleh algoritma ini terhadap otak kita?
Di sinilah kita menemukan realitas ilmiahnya. Fenomena main character syndrome di media sosial bukanlah sekadar soal narsisisme yang dangkal. Ini adalah respons biologis terhadap sistem yang dirancang untuk meretas hormon kebahagiaan kita. Dalam ilmu saraf, ada mekanisme yang disebut reward prediction error. Ketika kita memposting sesuatu dan mendapat banyak likes atau komentar di luar ekspektasi, otak melepaskan dopamin dalam jumlah besar. Otak mencatat: "Ini bagus, lakukan lagi, jadikan hidupmu sebuah pertunjukan."
Namun, agar pertunjukan terus berjalan, kita mulai mengalami apa yang dalam psikologi disebut depersonalization ringan. Kita tidak lagi mengalami hidup secara langsung. Sebaliknya, kita mengamati diri kita sendiri dari luar, seolah-olah kita adalah sutradara yang sedang mengevaluasi seorang aktor. Kita melihat senja bukan untuk dinikmati, tapi dievaluasi: "Apakah ini angle yang bagus untuk Instagram?" Kita kehilangan esensi dari momen tersebut karena kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana momen itu terlihat di mata orang lain. Dan ironi terbesarnya? Lampu sorot yang kita kejar itu sebenarnya adalah ilusi. Algoritma media sosial tidak peduli dengan betapa uniknya kisah hidup kita. Dalam mesin raksasa bernama attention economy atau ekonomi perhatian ini, kita bukanlah sang tokoh utama. Kita, beserta seluruh drama dan estetika kita, hanyalah bahan bakar gratis yang digunakan platform untuk menahan perhatian orang lain agar mereka bisa menjual iklan.
Menyadari hal ini mungkin terasa sedikit menampar, tapi tujuannya bukan untuk membuat kita merasa buruk. Teman-teman, adalah hal yang sangat manusiawi untuk ingin dilihat, didengar, dan merasa spesial. Kita semua adalah tokoh utama dalam narasi kehidupan kita sendiri, dan itu adalah sesuatu yang patut dirayakan. Namun, kita harus ingat batas antara menjalani hidup dan mementaskan hidup.
Mungkin, langkah terbaik yang bisa kita ambil sekarang adalah belajar untuk sesekali turun dari panggung pementasan itu. Kita tidak selalu membutuhkan audiens untuk membuktikan bahwa pengalaman kita valid. Momen-momen paling berharga, tawa yang paling tulus, dan kesedihan yang paling mendalam seringkali terjadi justru ketika tidak ada kamera yang merekam. Mari kita simpan beberapa bab dari cerita hidup kita hanya untuk diri kita sendiri. Karena pada akhirnya, hidup yang tidak direkam untuk disiarkan, tetaplah hidup yang sangat layak untuk dijalani.